Penerbit Al Quran – Pernahkah Anda merasa hampa setelah selesai menunaikan ibadah wajib? Hati-hati, bisa jadi hal ini disebabkan oleh kesalahan saat berdzikir setelah shalat yang sering tidak disadari. Sering kali, karena dikejar oleh kesibukan duniawi atau sekadar ikut-ikutan kebiasaan sejak kecil, kita melakukan berbagai kekeliruan dzikir sesudah sholat fardhu tanpa mengecek kembali kebenarannya berdasarkan sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
Padahal, dzikir bukanlah sekadar komat-kamit tanpa arti. Ia adalah sarana komunikasi spiritual kita untuk memohon ampunan, rahmat, dan penjagaan dari Allah ﷻ. Jika adab berdzikir dan tata caranya keliru, tentu esensi dan keutamaan dahsyat dari ibadah tersebut bisa berkurang atau bahkan tidak berbekas sama sekali.
Baca Juga Artikel: Tambahan Dzikir Setelah Subuh dan Maghrib yang Sering Terlewat
Kesalahan Berdzikir Setelah Shalat yang Sering Tidak Disadari
Secara ringkas, beberapa kesalahan umum yang kerap terjadi di tengah masyarakat meliputi, melafalkan dzikir dengan terburu-buru, bersuara terlalu keras hingga mengganggu jamaah lain, hanya membatin tanpa menggerakkan bibir, hingga menggunakan urutan atau doa yang bersumber dari hadits lemah (dhaif).
Daftar Kesalahan Saat Berdzikir Setelah Shalat yang Paling Sering Terjadi
Untuk memudahkan Anda mengidentifikasi dan memperbaikinya, berikut adalah rangkuman kekeliruan umum saat membaca dzikir dan doa setelah shalat fardhu. Coba perhatikan, apakah salah satunya masih sering kita lakukan tanpa sengaja?
- Membaca dengan Terburu-buru. Melafalkan kalimat tasbih, tahmid, dan takbir secepat kilat hingga huruf dan tajwidnya rusak.
- Hanya Membaca di Dalam Hati. Tidak menggerakkan lisan atau bibir sama sekali saat berdzikir.
- Bersuara Terlalu Keras (Mengganggu Jamaah Lain). Berdzikir dengan suara berlebihan hingga menghilangkan kekhusyukan orang di sebelah yang mungkin sedang shalat masbuq (tertinggal).
- Mengacak Urutan Sunnah. Langsung memanjatkan doa hajat pribadi tanpa didahului istighfar dan puji-pujian kepada Allah.
- Menghitung Dzikir Sembarangan. Tidak menggunakan ruas jari tangan kanan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.
- Menggunakan Sumber Doa yang Dhaif. Mengamalkan bacaan yang sanad (silsilah penyampaian) haditsnya lemah atau bahkan tidak ada tuntunannya sama sekali.
Setelah mengetahui daftarnya, mari kita bahas dan bedah secara mendalam mengapa hal-hal di atas dianggap sebagai keliru, serta bagaimana solusi syar’i untuk memperbaikinya.
Melafalkan Kalimat Secara Terburu-buru Hingga Merusak Makna
Ini adalah fenomena yang paling sering kita jumpai di masjid-masjid maupun di rumah. Seseorang membaca Subhanallah 33 kali dalam waktu kurang dari lima detik. Akibatnya, yang terdengar di bibir hanyalah gumaman tidak jelas yang merusak tatanan bahasa Arab. Ingatlah, satu harakat yang salah dalam bahasa Arab bisa mengubah makna secara fatal. Berdzikir adalah memuji Sang Pencipta Alam Semesta; tidak sepantasnya kita memuji-Nya dengan ketergesa-gesaan yang mencerminkan rasa tidak butuh.
Berdzikir Hanya di Dalam Hati (Tidak Menggerakkan Lisan)
Banyak kaum muslimin yang duduk diam setelah salam, membatin kalimat dzikir tanpa menggerakkan bibir atau lidahnya sedikit pun. Dalam kaidah ilmu fikih mayoritas ulama, ibadah lisan (seperti membaca Al-Qur’an dan dzikir) wajib diiringi dengan gerakan bibir dan lisan, minimal terdengar oleh telinga sendiri. Jika hanya dibatin di dalam hati, maka itu dikategorikan sebagai tafakkur (merenung), bukan dzikir lisan, sehingga pahala melafalkan dzikir yang disunnahkan tidak tercapai.
Mengacak Urutan dan Langsung Berdoa Hajat
Begitu salam, ada orang yang langsung mengangkat tangan dan meminta rezeki atau kelancaran jodoh tanpa memuji Allah terlebih dahulu. Ibarat bertamu kepada seorang Raja, tentu tidak sopan jika kita langsung menyodorkan proposal permintaan tanpa mengucapkan salam hormat dan pujian. Agar terhindar dari kesalahan urutan ini, sebaiknya kita kembali merujuk pada Urutan Dzikir dan Doa Setelah Shalat Fardhu Sesuai Sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, di mana kita diwajibkan beristighfar, menyucikan Allah, dan memuji-Nya sebelum meminta.
Adab Berdzikir yang Benar dan Pentingnya Rujukan yang Valid
Memperbaiki tata cara dzikir adalah bukti cinta kita kepada Allah ﷻ. Selain menghindari kesalahan-kesalahan di atas, kita juga harus mengaplikasikan adab-adab mulia. Di antaranya adalah menjaga agar hati senantiasa khusyu’ (hadir) dan merenungi setiap makna lafal yang diucapkan.
Menggunakan Jari Tangan Kanan untuk Menghitung
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat wanita untuk menghitung dzikir dengan ruas jari-jemari tangan, karena kelak di hari kiamat jari-jemari tersebut akan ditanya dan diminta bersaksi. Ulama sunnah sangat menganjurkan menggunakan ruas jari tangan kanan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan takbir, sebagai bentuk ittiba’ (mengikuti) jejak langkah Nabi.
Memastikan Sumber Doa Tidak Lemah (Dhaif) atau Bid’ah
Kesalahan paling fatal dan sering kali tidak disadari oleh umat Islam di era digital adalah mengambil amalan doa secara acak dari internet, broadcast pesan singkat, atau sumber yang tidak jelas keilmuannya. Mengamalkan doa yang tidak bersumber dari hadits shahih atau tidak diajarkan oleh ulama yang lurus (bisa jatuh pada perkara bid’ah) akan membuat ibadah kita berisiko tertolak.
Bagaimana kita bisa tenang beribadah jika kita tidak tahu pasti apakah doa yang kita ajarkan kepada anak dan keluarga setiap hari itu benar adanya atau hanya karangan semata?
Artikel Lainnya: Keutamaan Membaca Ayat Kursi Setelah Shalat Fardhu
Kitab Shahih Doa dan Dzikir Solusi Ketenangan Ibadah Keluarga

Untuk mengobati keraguan dan menghindari segala kesalahan saat berdzikir tersebut, setiap keluarga muslim wajib memiliki buku panduan induk yang valid secara fisik di rumah. Jangan lagi mengandalkan hafalan seadanya atau mencari di internet setiap kali selesai shalat, yang justru merusak konsentrasi karena notifikasi handphone.
Sebagai rujukan utama yang diakui oleh umat Islam di seluruh dunia, Penerbit Jabal menghadirkan Kitab Shahih Doa dan Dzikir karya mahaguru ulama salaf, Imam Nawawi.
Beliau adalah sosok ulama zuhud, ahli fikih, dan ahli ibadah yang luar biasa karena memiliki hafalan lebih dari 300.000 hadits. Imam Quthbuddin Al-Yuniny (pakar fikih dan hadits) bahkan memuji beliau sebagai “teladan zamannya dalam ilmu dan menjaga diri dari yang diharamkan”. Karyanya ini bukan sekadar buku bacaan, melainkan jaminan keilmuan yang memurnikan ibadah Anda.
Apa yang membuat buku seharga Rp 95.000 ini sangat berharga bagi Anda?
- Paripurna & Lengkap. Berisi kumpulan doa dari bangun tidur hingga tidur lagi, doa seputar kelahiran sampai kematian, doa mengatasi kesedihan hingga merayakan kebahagiaan, serta amalan khusus sesudah shalat, puasa, zakat, dan haji.
- Bukan Sekadar Teks. Memuat makna mendalam dan hukum fikih yang terkandung di dalam setiap doa dan dzikir, sehingga Anda paham betul apa yang sedang Anda minta kepada Allah.
- Anti Hadits Dhaif. Mengeliminasi kekhawatiran Anda akan amalan yang salah, karena telah dikurasi ketat oleh ahlinya.
Tidakkah investasi Rp 95.000 sangat murah untuk membebaskan diri Anda dari kesalahan beribadah selama bertahun-tahun? Pastikan setiap kalimat yang meluncur dari lisan Anda dan keluarga senantiasa dibimbing oleh ilmu yang lurus.
Dapatkan mahakarya terjemahan 100% Original dengan kualitas cetakan terbaik hanya di Penerbit Jabal. Kami berdedikasi melayani umat sejak tahun 2004. Pesanan Anda akan kami kirimkan dengan aman menggunakan Gratis Packing Bubble Tebal.
Mari wujudkan generasi keluarga muslim yang cerdas, berilmu, dan senantiasa berdzikir sesuai tuntunan sunnah yang shahih!

Hubungi Penerbit Jabal melalui kontak di bawah ini:
- WhatsApp: 087777 500 661 / 0878 2408 6365
- Alamat Kantor: Jalan Desa Cipadung No. 47 RT 03 RW 04, Cibiru, Kota Bandung
